Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2016

Tradisi Upa-upa dalam Adat Batak


Masih dalam rangka euphoria welcoming All New Sienta, jadi di AgungTOYOTA itu kita ada project WOW DEC Sienta. Dasarnya yah menciptakan customer delight saat serah terima kendaraan. Proses serah terima juga didampingi oleh manajemen cabang.

Nah, jadi di hari Kamis (25/08/16) kami udah ke rumahnya customer, tapi pas nyampe di rumah customernya..... eng ing eeeeng..... ada drama dulu karna customer ga bisa terima mobilnya karena belum di 'upa-upa'-in. Lah kami yang bukan orang Batak jadi bingung, tapi untungnya ada Pak Nixxon dan Pak Manurung yang orang Batak juga dan ngerti sama kondisi si customernya. Alhasil mobil Sienta-nya kami bawa pulang lagi karna yaaaaaaaa gitu, pelanggan adalah raja, wkwkwkwkw.

Kiri ke kanan: Pak Nandar, Pak Nixxon, Pak Made, Bu Lediana, Bu Ariva, Bu Fira Cantik, Bang Wono, Pak Manurung
Jadi yaa walaupun mobilnya belum bisa diterima customer, kita tetap poto-poto aja, dan untungnya itu hadiah mesin cuci sm payung dan bantal ga di upa-upain dulu, ehehehehe.


Kita masuk ke hari ke dua ya gaes...



Perjalanan ke Rumah Customer bersama Babeh Made ^^

Nah, setelah kita sampai di rumah customer, prosesi upa-upa langsung dilakukan. Video lengkapnya ada di link bawah ini:


Jadi memang, upa-upa itu dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar barang yang kita miliki bisa membawa berkah dan kebaikan. 

Penjelasan Dokumen Serah Terima

Eh ada spiderman, wkwk



Bersyukur banget bisa ngelihat langsung upacara adat budaya lain, apapun yang mereka lakukan, intinya itu adalah keperayaan mereka. Tugas kita yang 'berbeda' keyakinannya dengan mereka adalah menghargai dan memahami makna mereka melakukan kegiatan adatnya. 
#Nojudges
#Noracism
#indonesiaSATU




Selasa, 17 November 2015

AKULTURASI BUDAYA DI BAGAN SIAPIAPI


     Bagan Siapiapi merupakan  sebuah kota kecil di Kabupaten Rokan Hilir. Pada era kepemimpinan Bupati Annas Ma'amun (kini Gubernur Riau 2014-2019 non Aktif), dilakukan perubahan yang cukup signifikan di Kabupaten ini, yaitu revolusi bangunan perkantoran dan pelayanan publik dengan desain arsitektur atap kubah. Sejak saat itu, Bagan Siapiapi dijuluki sebagai Negeri Seribu Kubah.

     Kali ini Nanda belum bercerita banyak tentang arsitektur bangunannya, tetapi tentang Akulturasi Budaya di daerah tersebut. Berdasarkan data BPS 2011, jumlah populasi etnis Tionghoa di Indonesia sebanyak 2.832.510 orang dimana sebaran etnis tionghoa suku Hokkian di daerah Riau dan Kepulauan Riau termasuk dalam daerah dengan sebaran etnis Tionghoa yang signifikan.

     Jumlah yang banyak tersebut lantas tidak mempengaruhi budaya melayu asli di Bagan Siapiapi, begitupun sebaliknya. Sebagai pendatang, masyarakat Tionghoa tetap memegang teguh budaya dari nenek moyang mereka.  Saat perayaan ritual bakar tongkang / Go Cap Lek , etnis Tionghoa sangat khidmat dalam euphoria yang sudah menjadi agenda tahunan Visit Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir. Begitupun saat menjelang hari Raya Idul Fitri, masyarakat muslim pribumi tetap leluasa melaksanakan pawai dan takbiran di setiap jalanan di Bagan Siapi-api. Pada kehidupan sehari-hari pun begitu, Adzan masih terdengar syahdu di masjid, dan tabuhan gong dan bau dupa/kemenyan tetap lekat.

     Foto dibawah ini, merupakan salah satu contoh akuluturasi budaya melayu dan Tionghoa dimana aksara arab melayu masih dilestarikan dan aksara Tionghoa tidak terlupakan, model penulisan billboard seperti ini juga dapat dijumpai pada sebagian besar marka nama jalan di Bagan Siapiapi. kedua budaya hidup berdampingan tanpa menghilangkan ciri khas dari masing-masing budaya.