Teruntuk teman-teman DPM KM IPB
Senang bertemu, bergabung dan bekerjasama dengan kalian. Sama-sama mengukir mimpi dan impian untuk menjadi orang hebat. Menghabiskan waktu di Student Center dan Base Camp kita untuk menyelesaikan semua janji-janji dan komitmen kita.
Tapi kawan, tahukah kalian apa yang sedang terjadi..??
Aku mengalami suatu hal, ketidaknyamanan yang sudah kujadikan sahabat. Mungkin kalian juga pernah merasakan ini, di semester tiga lalu, nilai saya jatuh merosot bebas, kesehatan saya juga terganggu. Maaf kawan, kembali ke tujuan awal saya menuliskan postingan ini. Dua kata untuk kalia, khususnya DPM KM, 'mengundurkan diri'. Menurut saya itu adalah pilihan paling tepat saat ini. Percuma setiap hari kalian (ka y**d**) mengirimkan sms jarkom untuk pleno membahas AD/ART dan sebagainya tapi setiap jarkom iiut juga saya tidak datang memenuhi undangan kalian. Saya anggota DPM KM perwakilan FEMA, tapi tak sedikitpun dari isi AD/ART yang selama ini kalian 'godok' yang saya ketahui bahkan saya baca. Saya buta dengan organisasi saya sendiri. Untuk itu kawan, maafkan saya, pertemuan yang baru kita mulai ini harus saya akhiri karena alasan kesehatan. Masalah akademik tidak saya permasalahkan, tidak masalah jika saya harus lupa belajar atau malah tidak sempat belajar hanya untuk menyelesaikan rapat. Karena organisasi dan akademik, menurut saya adalah kedua kegiatan yang benar. Jadi, tidak etis jika saya menyalahkan suatu kebeneran atas kenyataan yang saya alami. Maaf kawan, sebelum kalian tau, saya pastinya sudah mengetahui ini, saya harus mengundurkan diri, harus sesegera mungkin. Jangan kalian persulit pengunduran diri ini. Sebagai orang dewasa yang ingin hidup sehat pastinya kalian mengerti alasan saya. Tetap semangat kawan, sampai jumpa di forum hebat berikutnya, and i'm so sorry, sorry is maaf, maka maafkanlah saya.
Karena hidup ga selalu manis, kadang asem, ampe ga ketulungan asemnya, kayak strawberry.
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Februari 2011
Selasa, 15 Februari 2011
Pertanyaan untuk Tuhan-Ku
Tuhan, aku tau Kau sangat menyayangi Hamba-Mu, termasuk aku. Tapi Tuhan, apakah sakit yang Engkau berikan padaku termasuk salah satu bentuk kasih sayang-Mu..??
Aku tau, kata mereka, ustad-ustad pintar dan orang – orang yang taat pada-Mu, sakit itu adalah ujian dari-Mu, dan orang yang diberi ujian adalah orang-orang yang mendapat perhatian dari-Mu, dan kata mereka juga, jika disetiap sakit itu kami selalu mengingat dan mengucap nama-Mu maka Engkau akan mengampuni dosa kami.
Tapi Tuhan, aku rasa aku tetap berdosa dan lebih berdosa karna dengan sakitku aku tidak bisa melakukan banyak hal, aku tidak bisa mengikuti rapat di organisasi ku, aku tidak bisa kuliah, aku tidak bisa bermain bersama teman-teman ku, apa aku tidak berdosa ..??
Tuhan, aku ingin sembuh, aku ingin sebulan saja tanpa sakit, bisakah Kau memberikan itu pada ku..??
Aku tau, kata mereka, ustad-ustad pintar dan orang – orang yang taat pada-Mu, sakit itu adalah ujian dari-Mu, dan orang yang diberi ujian adalah orang-orang yang mendapat perhatian dari-Mu, dan kata mereka juga, jika disetiap sakit itu kami selalu mengingat dan mengucap nama-Mu maka Engkau akan mengampuni dosa kami.
Tapi Tuhan, aku rasa aku tetap berdosa dan lebih berdosa karna dengan sakitku aku tidak bisa melakukan banyak hal, aku tidak bisa mengikuti rapat di organisasi ku, aku tidak bisa kuliah, aku tidak bisa bermain bersama teman-teman ku, apa aku tidak berdosa ..??
Tuhan, aku ingin sembuh, aku ingin sebulan saja tanpa sakit, bisakah Kau memberikan itu pada ku..??
Label:
Galau
Minggu, 30 Januari 2011
Galau Memikirkan Masa Depan
Masa depan..??
Ya, mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Begitu seterusnya. Cita-cita itu berkaitan dengan masa depan, tapi masa depan kadang bertolak belakang dengan apa yang kita cita-citakan. Jika anak balita atau anak usia Sekolah Dasar ditanya apa cita-cita mereka, jawaban mereka -biasanya-, dokter, tentara, superman, polisi, guru, pegawai bank, artis, penyanyi,presiden, dan profesi umum lainnya. Jarang sekali mereka mengatakan bahwa mereka ingin menjadi pegawai ticketing bioskop, receptionist, cleaning service, sutradara, supir taksi, fotografer, produser, dan profesi-profesi aneh lainnya. Dan yang lebih anehnya, mengapa cita-cita itu slalu berkaitan dengan sebuah profesi..??. Tampaknya pertanyaan itu tidak harus dijawab.
Waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi polwan, kemudian berganti menjadi pegawai bank, kemudian berganti lagi menjadi dokter spesialis anak, pernah juga aku ingin menjadi Putri Indonesia perwakilan Riau, kemudian menjadi presenter, menjadi guru, ahli gizi, dokter syaraf, dokter kulit, dokter bedah, kemudian wartawan, kemudian kembali lagi ingin menjadi dokter, dokter apapun itu, dengan alasan, -menurut banyak orang-aku pintar, sayang kalau otaknya tidak dimanfaatkan. Sejak saat itu aku belajar, belajar biologi, fisika, kimia, matematika, dan semuanya ku pelajari, tujuan hidupku saat itu: mempertahankan juara di kelas, dapat nilai tinggi, sering ikut lomba, disayang guru, dapat beasiswa untuk kuliah di tempat terkenal, tempatnya pembelajar sejati berburu ilmu, tapi cita-cita untuk menjadi wartawan tidak pernah ku lupakan, aku tetap menulis, mengkritik setiap kejadian aneh di sekolah, mewawancarai Ibu Gubernur yang berkunjung ke sekolah bahkan menjadi panitia buku tahunan. Tidak cukup sampai disitu, aku adalah orang yang berfikir untuk masa depan ku, solat ku tidak lagi 5 kali sehari semalam, tapi tujuh kali, ditambah Dhuha dan Tahjud, aku adalah orang yang dekat Tuhan, saat itu. Hingga akhirnya usaha panjang itu terkabul, aku diterima di Institut Pertanian Bogor, melalui jalur beasiswa, bertemu dengan orang-orang pintar, dan menjadi orang yang -disebut- pintar. Namun, kompas ku terjatuh, hancur dan arahnya kacau balau, masa transisi, labil, dan mencari identitas ku bukan pada masa SMP atau SMA seperti teman sebaya ku. Aku mengalami itu ketika kuliah di Tingkat Persiapan Bersama IPB. Terlambat memang. Aku berteman dengan anak-anak yang sangat jauh berbeda dengan teman-teman ku di seberang pulau sana. Aku tidak melakukan kebaikan apapun selain bolak balik Jakarta-Bogor untuk bertemu Arya tentunya dan menghabiskan uang di rekening ku hanya untuk bersenang-bersenang. Kapal ku terombang ambing, bahkan hampir karam ketika hubungan -percintaan- ku dengan Arya berakhir. Ini fakta, kawan. Tapi, -untuk kesekian kalinya kukatakan padamu- Tuhan ku sangat sayang padaku, dia memberikan ku jati diri yang sesungguhnya, yang membuat ku nyaman, aman, tentram, bahagia dan merasa benar-benar menjadi diriku sendiri saat aku bertemu sosok cerdas dan tajam di Koran Kampus, jadi diri ku semakin matang ketika aku kembali bergabung dengan Kepengurusan CSS MoRA IPB. Bersama mereka aku tau arti berhemat, arti cinta yang sesungguhnya, arti menghargai waktu, dan arti-arti yang lainnya. Disana, aku mengalami yang namanya proses pendewasaan diri. Kini, setelah aku -merasa- dewasa, aku menemukan cita-cita ku yang sesungguhnya: Wartawan, fotografer, orang yang hidupnya berhubungan dengan kamera dan komputer. Satu hal yang harus kau tau kawan, aku mengenal kamera dan efek gambar belum genap setahun, aku mengerti dunia itu belum lama, tapi mengapa, setiap ada tugas atau event yang berhubungan dengan mereka bertiga aku bersemangat, sangat semangat hingga mereka kini menjadi prioritas ku. Aku tidak lagi menjadi anak yang memikirkan nilai ujiannya, menjadi nanda yang santai dan lebih stabil keceriannya.
Sudah, aku sudah mantap, aku sudah melihat jalan itu, jalan menuju masa depan, jalan untuk mengambil sesuatu yang ada di kotak kaca di ujung lorong remang-remang yang panjang, sangat panjang, isinya didalam kotak itu adalah mereka bertiga, mereka yang barusan kuceritakan. yang membuat aneh adalah, aku galau, tidak tau untuk apa dan karna apa. Hati ku semakin menciut, lensa kamera ku semakin seperti tidak berguna ketika aku melihat hasil jepretan mereka, aku merasa benar-benar bodoh, tidak bisa apa-apa. Tuhan..., ini lah yang membuat aku semakin galau, semakin merasa sedih, dan semakin merasa tidak mampu untuk melakukan apapun untuk masa depan ku, aku galau memikirkan masa depan.Padahal, untuk apa aku berpusing-pusing memikirkan masa depan, aku perempuan yang suatu saat akan dilamar seorang lelaki -ntah super atau tidak- kemudian hidup bersamanya dan menuruti semua peraturan darinya, seperi teman-teman ku, sebagian dari mereka sudah menjalani intro dari masa depannya disaat aku masih galau memikirkan masa depan ku. Tapi tetap saja, aku galau, galau untuk kesekian kalinya, galau memikirkan masa depan.
Ya, mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Begitu seterusnya. Cita-cita itu berkaitan dengan masa depan, tapi masa depan kadang bertolak belakang dengan apa yang kita cita-citakan. Jika anak balita atau anak usia Sekolah Dasar ditanya apa cita-cita mereka, jawaban mereka -biasanya-, dokter, tentara, superman, polisi, guru, pegawai bank, artis, penyanyi,presiden, dan profesi umum lainnya. Jarang sekali mereka mengatakan bahwa mereka ingin menjadi pegawai ticketing bioskop, receptionist, cleaning service, sutradara, supir taksi, fotografer, produser, dan profesi-profesi aneh lainnya. Dan yang lebih anehnya, mengapa cita-cita itu slalu berkaitan dengan sebuah profesi..??. Tampaknya pertanyaan itu tidak harus dijawab.
Waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi polwan, kemudian berganti menjadi pegawai bank, kemudian berganti lagi menjadi dokter spesialis anak, pernah juga aku ingin menjadi Putri Indonesia perwakilan Riau, kemudian menjadi presenter, menjadi guru, ahli gizi, dokter syaraf, dokter kulit, dokter bedah, kemudian wartawan, kemudian kembali lagi ingin menjadi dokter, dokter apapun itu, dengan alasan, -menurut banyak orang-aku pintar, sayang kalau otaknya tidak dimanfaatkan. Sejak saat itu aku belajar, belajar biologi, fisika, kimia, matematika, dan semuanya ku pelajari, tujuan hidupku saat itu: mempertahankan juara di kelas, dapat nilai tinggi, sering ikut lomba, disayang guru, dapat beasiswa untuk kuliah di tempat terkenal, tempatnya pembelajar sejati berburu ilmu, tapi cita-cita untuk menjadi wartawan tidak pernah ku lupakan, aku tetap menulis, mengkritik setiap kejadian aneh di sekolah, mewawancarai Ibu Gubernur yang berkunjung ke sekolah bahkan menjadi panitia buku tahunan. Tidak cukup sampai disitu, aku adalah orang yang berfikir untuk masa depan ku, solat ku tidak lagi 5 kali sehari semalam, tapi tujuh kali, ditambah Dhuha dan Tahjud, aku adalah orang yang dekat Tuhan, saat itu. Hingga akhirnya usaha panjang itu terkabul, aku diterima di Institut Pertanian Bogor, melalui jalur beasiswa, bertemu dengan orang-orang pintar, dan menjadi orang yang -disebut- pintar. Namun, kompas ku terjatuh, hancur dan arahnya kacau balau, masa transisi, labil, dan mencari identitas ku bukan pada masa SMP atau SMA seperti teman sebaya ku. Aku mengalami itu ketika kuliah di Tingkat Persiapan Bersama IPB. Terlambat memang. Aku berteman dengan anak-anak yang sangat jauh berbeda dengan teman-teman ku di seberang pulau sana. Aku tidak melakukan kebaikan apapun selain bolak balik Jakarta-Bogor untuk bertemu Arya tentunya dan menghabiskan uang di rekening ku hanya untuk bersenang-bersenang. Kapal ku terombang ambing, bahkan hampir karam ketika hubungan -percintaan- ku dengan Arya berakhir. Ini fakta, kawan. Tapi, -untuk kesekian kalinya kukatakan padamu- Tuhan ku sangat sayang padaku, dia memberikan ku jati diri yang sesungguhnya, yang membuat ku nyaman, aman, tentram, bahagia dan merasa benar-benar menjadi diriku sendiri saat aku bertemu sosok cerdas dan tajam di Koran Kampus, jadi diri ku semakin matang ketika aku kembali bergabung dengan Kepengurusan CSS MoRA IPB. Bersama mereka aku tau arti berhemat, arti cinta yang sesungguhnya, arti menghargai waktu, dan arti-arti yang lainnya. Disana, aku mengalami yang namanya proses pendewasaan diri. Kini, setelah aku -merasa- dewasa, aku menemukan cita-cita ku yang sesungguhnya: Wartawan, fotografer, orang yang hidupnya berhubungan dengan kamera dan komputer. Satu hal yang harus kau tau kawan, aku mengenal kamera dan efek gambar belum genap setahun, aku mengerti dunia itu belum lama, tapi mengapa, setiap ada tugas atau event yang berhubungan dengan mereka bertiga aku bersemangat, sangat semangat hingga mereka kini menjadi prioritas ku. Aku tidak lagi menjadi anak yang memikirkan nilai ujiannya, menjadi nanda yang santai dan lebih stabil keceriannya.
Sudah, aku sudah mantap, aku sudah melihat jalan itu, jalan menuju masa depan, jalan untuk mengambil sesuatu yang ada di kotak kaca di ujung lorong remang-remang yang panjang, sangat panjang, isinya didalam kotak itu adalah mereka bertiga, mereka yang barusan kuceritakan. yang membuat aneh adalah, aku galau, tidak tau untuk apa dan karna apa. Hati ku semakin menciut, lensa kamera ku semakin seperti tidak berguna ketika aku melihat hasil jepretan mereka, aku merasa benar-benar bodoh, tidak bisa apa-apa. Tuhan..., ini lah yang membuat aku semakin galau, semakin merasa sedih, dan semakin merasa tidak mampu untuk melakukan apapun untuk masa depan ku, aku galau memikirkan masa depan.Padahal, untuk apa aku berpusing-pusing memikirkan masa depan, aku perempuan yang suatu saat akan dilamar seorang lelaki -ntah super atau tidak- kemudian hidup bersamanya dan menuruti semua peraturan darinya, seperi teman-teman ku, sebagian dari mereka sudah menjalani intro dari masa depannya disaat aku masih galau memikirkan masa depan ku. Tapi tetap saja, aku galau, galau untuk kesekian kalinya, galau memikirkan masa depan.
Label:
Galau
Senin, 10 Januari 2011
Say, Single is Happy !!
Pertama gue ngerasain enak dan indahnya pacaran, gue dan cowo gue -sekarang udah mantan- bikin janji janji kacangan yang intinya kita ga boleh putus, ga boleh selingkuh, saling percaya, saling pengertian, saling berbagi -apapun itu dibagi, uang, makanan, ampe kunci jawaban ujian nasional aja dibagi, hhe-
tapi terbukti looh, kita bisa awet ampe 5 taon. Yaaa, walaupun banyak masalah plus berantem2an, kita sampai juga di yang namanya anniversary ke 5, 24 februari 2010 kemaren. Emang sih, menjelang 5 taon itu hubungan kita ga terlalu baik, banyak berantem, dan gue juga ngerasa ragu kalo kita bisa nyampe 5 taon. Next, ga lama setelah kita 5 tahunan, tepatnya sebulan empat hari, tanggal 28 maret 2010, nyesek banget karna apa yg gue pikirin selama ini, kejadian juga, GUE PUTUS, hooohh.
pas hari pertama putus gue masih bisa ngerasain free jadi jomblo. Tapi, setelah beberapa hari, gue ngerasain kesepian banget, dan itu bener2 ga enak, kerjaan gue mewek, maen ke kamar tetangga gue -karna waktu itu putusnya di asrama-, mewek
ngedenger temen2 gue yang nyeritain cowonya, mewek
ngeliatin orang pacaran, gue kesel, pengen gue cakar semua orang yang pacaran di dunia ini. Dan yang paling parah adalah, selama gue pacaran, akses terhadap temen2 cowo bener2 tertutup buat gue, secara mantan cowo gue itu over protective. Dan gue, bener2 ngerasa ga ada tempat curhat, sampai gue update status facebook: need a shoulder to cry. Itu semua karna gue bener2 butuh orang yang bisa bikin gue ceria lagi, dan gue bener2 berharap bisa balikan ama cowo gue -begok-.
Oke, untung gue masih punya temen2 asrama yang bisa nenangin gue, gue bisa kembali bahagia, kembali ceria kaya dulu lagi, yap.
Dalam masa kebangkitan itu, gue pengen banget punya pacar, sesegera mungkin. Tapi itu harapan gue bener2 kosong boi, sampai gue ngerasa jadi cewe paling jelek di dunia karna tak kunjung dapat pacar. Datanglah teman2 gue yang menenangkan dengan bilang "tenang nan, mungkin lu terlalu sempurna buat cowo2 diluar sana, jadi belum ada yg berani ngedeketin lu, sabar aja nan, itu karna belum ada aja cowo beruntung yang bisa dapetin lu", okey, gue paham, dan dalam pemahaman itu, sampai sekarang, udah hampir setaon, gue masih jomblo, fiuuuhh
Emang sih sejatinya sebagai cewe gue pengen punya cowo, pengen ada yang ngucapin selamat pagi, pengen ada yang nemenin gue kalau pulang rapat, dan pengen ada yang digandeng kalao gue lagi ngegahol. Tapi sejatinya gue yang banyak mau dan labil, gue slalu mengidam2kan fotografer atau jurnalis yang bakal jadi cowo gue, ato anak2 yang ngerti hal2 yang berbau gitu2an. Susah sih nyari yg begituan kayanya, makanya gue diem aja, gue ninggu waktu yang pas ampe gue sreg buat pacaran lagi, karna pastinya gue ga mau sakit lagi, gue ga mau sedih lagi, gue pengen tetep bahagia sama cowo gue tanpa mengurangi kemerdekaan gue sebagai cewe yg hidup di zaman udah merdeka, artinya, gue mau punya pacar tapi ga mau dijajah.
Naaah, buat nenangin hati yang ngejomblo ini, gue ngingat2 apa sih manfaat faedah dan enaknya jadi jomblo
1. lu bisa bebas, pasti
2. punya banyak teman, pergaulan lu ga terbatas
3. ngurangin dosa, karna dengan ga pacaran lu terhindar dari yg namanya maksiat
4. hemat, karna lu ga butuh biaya tambahan buat pulsa, makan bareng, nonton bareng, jalan bareng, dll
5. punya banyak waktu buat eksplorasi diri, karna lu ga pusing bagi waktu buat cowo lu, selain kuliah, lu bisa ikut kegiatan apapun itu tanpa mikirin cowo lu
6. dekat dengan orangtua dan keluarga
yang terakhir ini nih, yg paling indah gue rasain dan jadi salah satu alasan gue ga pengen cepet2 punya cowo, karna semenjak gue putus, ema bapa abang gue jadi lebih perhatian, lebih sering nelpon dan itu bikin gue jadi lebih bahagia daripada waktu punya cowo dulu. ^_^
tapi terbukti looh, kita bisa awet ampe 5 taon. Yaaa, walaupun banyak masalah plus berantem2an, kita sampai juga di yang namanya anniversary ke 5, 24 februari 2010 kemaren. Emang sih, menjelang 5 taon itu hubungan kita ga terlalu baik, banyak berantem, dan gue juga ngerasa ragu kalo kita bisa nyampe 5 taon. Next, ga lama setelah kita 5 tahunan, tepatnya sebulan empat hari, tanggal 28 maret 2010, nyesek banget karna apa yg gue pikirin selama ini, kejadian juga, GUE PUTUS, hooohh.
pas hari pertama putus gue masih bisa ngerasain free jadi jomblo. Tapi, setelah beberapa hari, gue ngerasain kesepian banget, dan itu bener2 ga enak, kerjaan gue mewek, maen ke kamar tetangga gue -karna waktu itu putusnya di asrama-, mewek
ngedenger temen2 gue yang nyeritain cowonya, mewek
ngeliatin orang pacaran, gue kesel, pengen gue cakar semua orang yang pacaran di dunia ini. Dan yang paling parah adalah, selama gue pacaran, akses terhadap temen2 cowo bener2 tertutup buat gue, secara mantan cowo gue itu over protective. Dan gue, bener2 ngerasa ga ada tempat curhat, sampai gue update status facebook: need a shoulder to cry. Itu semua karna gue bener2 butuh orang yang bisa bikin gue ceria lagi, dan gue bener2 berharap bisa balikan ama cowo gue -begok-.
Oke, untung gue masih punya temen2 asrama yang bisa nenangin gue, gue bisa kembali bahagia, kembali ceria kaya dulu lagi, yap.
Dalam masa kebangkitan itu, gue pengen banget punya pacar, sesegera mungkin. Tapi itu harapan gue bener2 kosong boi, sampai gue ngerasa jadi cewe paling jelek di dunia karna tak kunjung dapat pacar. Datanglah teman2 gue yang menenangkan dengan bilang "tenang nan, mungkin lu terlalu sempurna buat cowo2 diluar sana, jadi belum ada yg berani ngedeketin lu, sabar aja nan, itu karna belum ada aja cowo beruntung yang bisa dapetin lu", okey, gue paham, dan dalam pemahaman itu, sampai sekarang, udah hampir setaon, gue masih jomblo, fiuuuhh
Emang sih sejatinya sebagai cewe gue pengen punya cowo, pengen ada yang ngucapin selamat pagi, pengen ada yang nemenin gue kalau pulang rapat, dan pengen ada yang digandeng kalao gue lagi ngegahol. Tapi sejatinya gue yang banyak mau dan labil, gue slalu mengidam2kan fotografer atau jurnalis yang bakal jadi cowo gue, ato anak2 yang ngerti hal2 yang berbau gitu2an. Susah sih nyari yg begituan kayanya, makanya gue diem aja, gue ninggu waktu yang pas ampe gue sreg buat pacaran lagi, karna pastinya gue ga mau sakit lagi, gue ga mau sedih lagi, gue pengen tetep bahagia sama cowo gue tanpa mengurangi kemerdekaan gue sebagai cewe yg hidup di zaman udah merdeka, artinya, gue mau punya pacar tapi ga mau dijajah.
Naaah, buat nenangin hati yang ngejomblo ini, gue ngingat2 apa sih manfaat faedah dan enaknya jadi jomblo
1. lu bisa bebas, pasti
2. punya banyak teman, pergaulan lu ga terbatas
3. ngurangin dosa, karna dengan ga pacaran lu terhindar dari yg namanya maksiat
4. hemat, karna lu ga butuh biaya tambahan buat pulsa, makan bareng, nonton bareng, jalan bareng, dll
5. punya banyak waktu buat eksplorasi diri, karna lu ga pusing bagi waktu buat cowo lu, selain kuliah, lu bisa ikut kegiatan apapun itu tanpa mikirin cowo lu
6. dekat dengan orangtua dan keluarga
yang terakhir ini nih, yg paling indah gue rasain dan jadi salah satu alasan gue ga pengen cepet2 punya cowo, karna semenjak gue putus, ema bapa abang gue jadi lebih perhatian, lebih sering nelpon dan itu bikin gue jadi lebih bahagia daripada waktu punya cowo dulu. ^_^
Label:
Galau
Langganan:
Postingan (Atom)