Karena hidup ga selalu manis, kadang asem, ampe ga ketulungan asemnya, kayak strawberry.
Tampilkan postingan dengan label Humanistic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humanistic. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Oktober 2012
Ketika Sholat Menjadi Hal yang Menakutkan
Nanda seneng banget pas ke mushalla di jam sholat zhuhur dan sholat ashar, mushallanya reme banget euy, yg sholat ampe bejubel. Itu tandanya, kesadaran mahasiswa IPB ama yang namanya ibadah masih tinggi ^_^. Tapi, ada satu hal yang mungkin kita semua udah tau, sering banget ada kejadian kehilangan barang di mushallan kampus dan waktu itu korbannya lagi sholat. Bahkan, di masjid kampus terbesar sekalipun, Masjid Alhurriyah kehilangan laptop, handphone, dompet, dan barang berharga lainnya. Oh meeenn, itu tempat ibadah, emang yg nyolong ga takut kualat apa nyolongin barang orang yang lagi sholat, di musholla dan masjid pulak!!.
Kejadian kayaknya gtu emang harus jadi kesadaran bersama bagi kita, buat yang punya barang, harus bener2 ngejaga barang2 bawaannya. Karena, kalau diciptain peraturan ga boleh bawa barang berharga ke mushalla dan diadain marbot di mushalla, kayaknya bakal susah, apalagi kalau ntar maunya yang gratisan. Nah, kesadaran buat ngejaga barang itu sebenernya udah ada,mahasiswa yang ngerasa bawa barang berharga, pasti naruhnya didekat 'batas pandang' pas sholat. Tapi sayangnya, nanda secara pribadi kalo pas sholat bakal noleh mulu ke barang bawaan nanda. Secara ga langsung itu karna ada ketakutan dr nanda kalo barang nanda bakal diambil orang. Ini nih yang jadi pertanyaan, ketika untuk sholat yang ga nyampe 10 menit aja kita harus takut sama barang2 kita yang berkemungkinan dicolong, kemana keamanan yang bikin orang merasa tenang dan ga curiga dengan orang yang ada disekitarnya. Apa ini bukti buat kita semua, saking susenya idup, orang ampe berani nyolong barang orang yang sedang sholat di tempat sholat yang istilahnya itu Rumah Allah, tempat malaikat berkumpul.
Ini ga cuma tugas satpam atau Unit Keamanan Kampus loh, tapi juga tugas keluarga untuk mengajarkan norma kebaikan kepada anggotanya, tugas lembaga pendidikan untuk memberikan pendidikan moral secara jelas dan nyata, dan tugas negara untuk menjamin isi perut masyarakatnya.
Label:
Humanistic,
Ibadah,
IPB,
Keamanan Kampus,
Kritik itu Boleh,
Masjid,
Mushalla,
Sholat
Sabtu, 08 September 2012
Yang tersisa dari KKP
Ini postingan beberapa foto KKP IPB 2012 di Desa Banjarsari, Kec. Bayongbong, Kab Garut
Sawah teraseri di Kampung Ciloa.
Petaniwati
Tukang Becak Alun-alun Kota Garut-Gedoeng Coklat Chocodot
Menuju ke Darajat Pass
Pengemis di Alun-alun
Mohon komentar dari temang-teman blogwalker semua yah, maklum fotonya jelek, masih belajar, hehe
Label:
Alam,
Banjarsari,
Bayongbong,
Foto.,
Garut,
Human interest,
Humanistic,
KKP
Sabtu, 26 Mei 2012
Bendera Setengah Tiang
Jumat, disebut-sebut sebagai hari baik. Saking baik dan mulyanya hari jumat, banyak juga yg bilang kalau ada yg meninggal di hari jumat, berarti orang yang meninggal itu orang baik, dan nanda percaya itu.
Jumat beberapa hari lalu, dua orang pria pemberani telah merelakan nyawanya, kehidupannya, dan bahkan meninggalkan keluarganya ketika ia sedang bertugas. Dua orang pria hebat itu adalah pihak Unit Keamanan Kampus (UKK) Institut Pertanian Bogor. beliau meninggal dalam tugasnya sebagai penjaga keamanan IPB. Saat itu, beliau sedang memergoki dua orang yang mencurigakan karena hendak mencuri sepeda motor di parkiran masjid Al Hurriyyah IPB. Naas, bapak yang sedang membela kebenaran itu pun tewas ditembak oleh pencuri motor.
IPB kembali berduka, tidak tanggung-tanggung dalam waktu kurang dari 3 bulan lalu, IPB juga kehilangan dua orang mahasiswa dalam peristiwa kecelakaan, kemudian IPB lagi-lagi harus kehilangan seorang profesor, guru besar, dan sosialis Bapak Sayogyo. bendera setengah tiang pun berkibar sendu sebagai bentuk duka IPB atas musibah yang terus menimpa.
Untuk mereka yang telah pergi, saya yakin, ada surga yang sudah disediakan untuk kalian, dan untuk mereka yang 'mengambil' orang-orang itu dari kami, semoga diberi ampunan dan hidayah untuk mengakui kesalahannya.
Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji'un.
*catatan untuk orang yang memegang kendali atas puluhan juta perut bangsa Indonesia, inilah potret negara kaya pangan kita yang tercinta. Demi keberlanjutan isi perut mereka, nyawa orang lain seakan tak berguna lagi.
Label:
Humanistic,
IPB
Kamis, 10 Mei 2012
Kisah Sepotong Roti
Aku roti. Aku dibuat oleh tangan terampil manusia dengan berbahan dasar tepung. Agar aku lebih disukai, terkadang manusia menambahkan rasa coklat, keju, srikaya, atau buah-buahan lain kepadaku.
Sebenarnya aku bukan makanan pokok. Tapi, untuk beberapa orang sibuk, aku bisa diandalkan untuk mengganjal lambung mereka. Untuk sebagian kakak-kakak mahasiswa juga, aku menjadi favorit di pagi hari, atau bahkan di akhir bulan ketika keuangan mereka menipis.
Aku roti murah, diproduksi di pabrik kecil, dan dipasarkan lewat pedagang eceran. Dan kali ini, seorang anak kecil mengambil aku dan beberapa temanku. Aku pikir dia memborong kami untuk dimakan. Tapi dari postur tubuhnya yang kurus, hitam, dan kering, terlihat sekali kalau anak itu mengambil kami bukan untuk dimakan. Badannya terlalu kurus untuk menjadi seorang tukang makan.
Setelah mendengar pembicaraan tuanku dan anak kecil tadi, aku baru tahu kalau dia adalah pedagang eceran yg akan menjual ku kepada kakak-kakak mahasiswa di IPB.
Aku terkejut, anak sekecil itu sudah menjadi penjual, aku kira dia harus sekolah, tapi ternyata tidak.
Setelah dibungkus plastik agar sedikit cantik dan tidak kotor. Aku dan teman-teman dijunjung didalam keranjang hijau yang sudah pudar karena sering terjemur. Bersama kami, juga ada kerupuk, jeruk, dan beberapa camilan murah lainnya di keranjang terpisah. Dan mulai saat ini, aku, tuanku yg kecil, jeruk-jeruk dan kerupuk itu akan berjuan bersama, berdoa pada Tuhan agar kami diizinkan membantu manusia yang sedang butuh sedikit pengganjal perut. Ternyata, tuanku punya beberapa teman yang akan menggantikannya berjualan ketika tuanku sudah lelah, mereka adalah anak kecil yang lucu, namun dari balik plastik transparan ini aku bisa melihat bahwa mereka sedang menyimpan harap, harap untuk sekolah dan bermain bersama teman-teman mereka yang lain di sekolah.
Aku sedih, melihat keadaan mereka, aku sangat bersyukur sebagai sepotong roti, dalam hidup ku yang hanya beberapa hari, aku tidak perlu menjalani banyak masalah pelik.
Tuanku dan teman-temannya berjalan disela-sela kakak-kakak mahasiswa IPB yang terburu-buru karena mereka ingin masuk kuliah, tuanku terlihat sangat kecil dan kusam diantara kakak-kakak yang berbadan sehat dan mereka harum, jelas sekali mereka adalah orang yang bernasib jauh lebih baik dari tuannku.
Kampus ini bagus, gumamku didalam plastik. Lalu tuanku duduk didekat sebuah pohon dipinggir jalan, dimana kakak-kakak mahasiswa banyak yang melewati jalan itu. Teman tuanku memberikan meja lipat kecil kepada tuanku, dan aku didudukkan diatas meja itu bersama temanku yang lain. Tuanku pun mulai menawarkan kami kepada kakak-kakak mahasiswa yang berlalu lalang. Sebagian mereka tampak peduli dengan sedikit tersenyum pada tuanku, dan memandang lirih pada kami. Namun, sebagian lagi tampak begitu angkuh berjalan dihadapan kami dan tidak menoleh sedikit pun, entah mereka sedang sibuk, atau memang benci kepada kami, sudahlah...aku hanya ingin membantu mereka menghilangkan lapar mereka sesaat.
Hari semakin panas, aku takut, jika terlalu lama berada dibawah matahari, aku bisa menguap dan cepat busuk, itu artinya, hidupku akan sia-sia karena aku tidak dapat membantu manusia hingga akhirnya aku busuk. Tetapi tuanku mengerti, dia juga merasakan panas yang sama, dia berpindah ke tempat yang sedikit teduh, dan hal yang sama terulang lagi, tidak ada satupun yang mau membeli kami.
Aku sadar, aku memang roti murah, proses pembuatanku kurang higienis, rasa ku kurang enak, dan aku buruk. Tapi harapanku hanya satu, ingin membantu manusia. Selain itu, ketika nanti aku dibeli, tuanku akan mendapatkan uang dan Ia bisa pulang kerumah lebih cepat.
Hari sudah semakin sore, dari tadi belum ada dari kami yang dibeli. Aku mulai putus asa karena lusa aku akan busuk. Ketika tuanku mulai merapihkan kami, datang seorang kakak mahasiswi yang menurutku Ia tidak cantik. Dia mengenakan pakaian yang amat sederhana, Ia memakai rok hitam, kemeja batik yang pudar, dan kerudung yang juga sudah lusuh. Ranselnya pun penuh jahitan sana-sini. Aku yakin kakak itu tidak punya cukup uang untuk membawa kami pulang dan memakan kami, terlebih Ia hanya memandang kami dengan wajahnya yang melas.
Kakak itu duduk merendah didekat kami, memegang salah satu temanku dan bertanya 'ini harganya berapa dek?', 'seribuan ka', jawab tuanku. 'Rotinya tinggal berapa?, bentar lagi kadaluarsa ya ini?'. Kakak itu kembali bertanya, aku tidak mengerti apa arti kadaluarsa, tapi orang-orang yang berpendidikan sering mengucapkan kata itu untuk menggambarkan bahwa aku sudah tidak layak dimakan.
Tuanku menjawab 'masih ada lima belas teh, dr td belum laku'. 'Oke teteh beli semua ya rotinya', aku tercengang, tak terkecuali tuanku. Kakak itu mengeluarkan uang berwarna hijau, aku bisa melihat disana ada gambar ibu-ibu mengenakan caping dan memetik teh, ya itu adalah uang dua puluh ribu rupiah. Kakak itu memberikan uangnya, tuanku mengucapkan makasih berkali-kali sambil memasukkan kami kedalam kantong plastik bekas. Kemudian tuanku berkata 'teteh, kembaliannya ga ada, apa teteh mau nunggu sembari saya nyari tukeran duit?, atau saya kasih jeruk aja teh?'. Kaka itu hanya tersenyum kemudian berkata, 'duitnya buat adek aja, ditabung yaaa'. Tuanku mengangguk kecil masih tidak percaya. Dalam keadaan tertimpa teman-teman lain didalam plastik, aku bisa melihat bahwa ternyata kakak ini cantik, hatinya sangat tulus membantu orang lain. Beberapa temanku dibagikan kepada pengemis yang Ia temui dijalan kosannya. Dan beberapa lagi Ia berikan kepada teman kost-nya. Dan aku, masih tergeletak diatas meja belajarnya, sampai kudengar adzan maghrib, kakak itu berdoa dan membuka bungkusanku. Sepotong demi sepotong tubuhku dikunyah dan dimakan oleh kakak baik hati itu. Baru setelah tubuhku hancur semua aku tahu, aku dimakan kakak itu ketika sebagai ta'jil puasa sunahnya. Mulia sekali kakak itu, Ya Tuhaan, lindungilah kakak baik hati ini, berkati hidupnya, dan jadikanlah aku makanan yang bermanfaat dan bergizi bagi kakak ini, amiiiinn.
Sebenarnya aku bukan makanan pokok. Tapi, untuk beberapa orang sibuk, aku bisa diandalkan untuk mengganjal lambung mereka. Untuk sebagian kakak-kakak mahasiswa juga, aku menjadi favorit di pagi hari, atau bahkan di akhir bulan ketika keuangan mereka menipis.
Aku roti murah, diproduksi di pabrik kecil, dan dipasarkan lewat pedagang eceran. Dan kali ini, seorang anak kecil mengambil aku dan beberapa temanku. Aku pikir dia memborong kami untuk dimakan. Tapi dari postur tubuhnya yang kurus, hitam, dan kering, terlihat sekali kalau anak itu mengambil kami bukan untuk dimakan. Badannya terlalu kurus untuk menjadi seorang tukang makan.
Setelah mendengar pembicaraan tuanku dan anak kecil tadi, aku baru tahu kalau dia adalah pedagang eceran yg akan menjual ku kepada kakak-kakak mahasiswa di IPB.
Aku terkejut, anak sekecil itu sudah menjadi penjual, aku kira dia harus sekolah, tapi ternyata tidak.
Setelah dibungkus plastik agar sedikit cantik dan tidak kotor. Aku dan teman-teman dijunjung didalam keranjang hijau yang sudah pudar karena sering terjemur. Bersama kami, juga ada kerupuk, jeruk, dan beberapa camilan murah lainnya di keranjang terpisah. Dan mulai saat ini, aku, tuanku yg kecil, jeruk-jeruk dan kerupuk itu akan berjuan bersama, berdoa pada Tuhan agar kami diizinkan membantu manusia yang sedang butuh sedikit pengganjal perut. Ternyata, tuanku punya beberapa teman yang akan menggantikannya berjualan ketika tuanku sudah lelah, mereka adalah anak kecil yang lucu, namun dari balik plastik transparan ini aku bisa melihat bahwa mereka sedang menyimpan harap, harap untuk sekolah dan bermain bersama teman-teman mereka yang lain di sekolah.
Aku sedih, melihat keadaan mereka, aku sangat bersyukur sebagai sepotong roti, dalam hidup ku yang hanya beberapa hari, aku tidak perlu menjalani banyak masalah pelik.
Tuanku dan teman-temannya berjalan disela-sela kakak-kakak mahasiswa IPB yang terburu-buru karena mereka ingin masuk kuliah, tuanku terlihat sangat kecil dan kusam diantara kakak-kakak yang berbadan sehat dan mereka harum, jelas sekali mereka adalah orang yang bernasib jauh lebih baik dari tuannku.
Kampus ini bagus, gumamku didalam plastik. Lalu tuanku duduk didekat sebuah pohon dipinggir jalan, dimana kakak-kakak mahasiswa banyak yang melewati jalan itu. Teman tuanku memberikan meja lipat kecil kepada tuanku, dan aku didudukkan diatas meja itu bersama temanku yang lain. Tuanku pun mulai menawarkan kami kepada kakak-kakak mahasiswa yang berlalu lalang. Sebagian mereka tampak peduli dengan sedikit tersenyum pada tuanku, dan memandang lirih pada kami. Namun, sebagian lagi tampak begitu angkuh berjalan dihadapan kami dan tidak menoleh sedikit pun, entah mereka sedang sibuk, atau memang benci kepada kami, sudahlah...aku hanya ingin membantu mereka menghilangkan lapar mereka sesaat.
Hari semakin panas, aku takut, jika terlalu lama berada dibawah matahari, aku bisa menguap dan cepat busuk, itu artinya, hidupku akan sia-sia karena aku tidak dapat membantu manusia hingga akhirnya aku busuk. Tetapi tuanku mengerti, dia juga merasakan panas yang sama, dia berpindah ke tempat yang sedikit teduh, dan hal yang sama terulang lagi, tidak ada satupun yang mau membeli kami.
Aku sadar, aku memang roti murah, proses pembuatanku kurang higienis, rasa ku kurang enak, dan aku buruk. Tapi harapanku hanya satu, ingin membantu manusia. Selain itu, ketika nanti aku dibeli, tuanku akan mendapatkan uang dan Ia bisa pulang kerumah lebih cepat.
Hari sudah semakin sore, dari tadi belum ada dari kami yang dibeli. Aku mulai putus asa karena lusa aku akan busuk. Ketika tuanku mulai merapihkan kami, datang seorang kakak mahasiswi yang menurutku Ia tidak cantik. Dia mengenakan pakaian yang amat sederhana, Ia memakai rok hitam, kemeja batik yang pudar, dan kerudung yang juga sudah lusuh. Ranselnya pun penuh jahitan sana-sini. Aku yakin kakak itu tidak punya cukup uang untuk membawa kami pulang dan memakan kami, terlebih Ia hanya memandang kami dengan wajahnya yang melas.
Kakak itu duduk merendah didekat kami, memegang salah satu temanku dan bertanya 'ini harganya berapa dek?', 'seribuan ka', jawab tuanku. 'Rotinya tinggal berapa?, bentar lagi kadaluarsa ya ini?'. Kakak itu kembali bertanya, aku tidak mengerti apa arti kadaluarsa, tapi orang-orang yang berpendidikan sering mengucapkan kata itu untuk menggambarkan bahwa aku sudah tidak layak dimakan.
Tuanku menjawab 'masih ada lima belas teh, dr td belum laku'. 'Oke teteh beli semua ya rotinya', aku tercengang, tak terkecuali tuanku. Kakak itu mengeluarkan uang berwarna hijau, aku bisa melihat disana ada gambar ibu-ibu mengenakan caping dan memetik teh, ya itu adalah uang dua puluh ribu rupiah. Kakak itu memberikan uangnya, tuanku mengucapkan makasih berkali-kali sambil memasukkan kami kedalam kantong plastik bekas. Kemudian tuanku berkata 'teteh, kembaliannya ga ada, apa teteh mau nunggu sembari saya nyari tukeran duit?, atau saya kasih jeruk aja teh?'. Kaka itu hanya tersenyum kemudian berkata, 'duitnya buat adek aja, ditabung yaaa'. Tuanku mengangguk kecil masih tidak percaya. Dalam keadaan tertimpa teman-teman lain didalam plastik, aku bisa melihat bahwa ternyata kakak ini cantik, hatinya sangat tulus membantu orang lain. Beberapa temanku dibagikan kepada pengemis yang Ia temui dijalan kosannya. Dan beberapa lagi Ia berikan kepada teman kost-nya. Dan aku, masih tergeletak diatas meja belajarnya, sampai kudengar adzan maghrib, kakak itu berdoa dan membuka bungkusanku. Sepotong demi sepotong tubuhku dikunyah dan dimakan oleh kakak baik hati itu. Baru setelah tubuhku hancur semua aku tahu, aku dimakan kakak itu ketika sebagai ta'jil puasa sunahnya. Mulia sekali kakak itu, Ya Tuhaan, lindungilah kakak baik hati ini, berkati hidupnya, dan jadikanlah aku makanan yang bermanfaat dan bergizi bagi kakak ini, amiiiinn.
Published with Blogger-droid v1.6.6
Label:
Humanistic,
IPB,
Story
Langganan:
Postingan (Atom)
