Teruntuk teman-teman DPM KM IPB
Senang bertemu, bergabung dan bekerjasama dengan kalian. Sama-sama mengukir mimpi dan impian untuk menjadi orang hebat. Menghabiskan waktu di Student Center dan Base Camp kita untuk menyelesaikan semua janji-janji dan komitmen kita.
Tapi kawan, tahukah kalian apa yang sedang terjadi..??
Aku mengalami suatu hal, ketidaknyamanan yang sudah kujadikan sahabat. Mungkin kalian juga pernah merasakan ini, di semester tiga lalu, nilai saya jatuh merosot bebas, kesehatan saya juga terganggu. Maaf kawan, kembali ke tujuan awal saya menuliskan postingan ini. Dua kata untuk kalia, khususnya DPM KM, 'mengundurkan diri'. Menurut saya itu adalah pilihan paling tepat saat ini. Percuma setiap hari kalian (ka y**d**) mengirimkan sms jarkom untuk pleno membahas AD/ART dan sebagainya tapi setiap jarkom iiut juga saya tidak datang memenuhi undangan kalian. Saya anggota DPM KM perwakilan FEMA, tapi tak sedikitpun dari isi AD/ART yang selama ini kalian 'godok' yang saya ketahui bahkan saya baca. Saya buta dengan organisasi saya sendiri. Untuk itu kawan, maafkan saya, pertemuan yang baru kita mulai ini harus saya akhiri karena alasan kesehatan. Masalah akademik tidak saya permasalahkan, tidak masalah jika saya harus lupa belajar atau malah tidak sempat belajar hanya untuk menyelesaikan rapat. Karena organisasi dan akademik, menurut saya adalah kedua kegiatan yang benar. Jadi, tidak etis jika saya menyalahkan suatu kebeneran atas kenyataan yang saya alami. Maaf kawan, sebelum kalian tau, saya pastinya sudah mengetahui ini, saya harus mengundurkan diri, harus sesegera mungkin. Jangan kalian persulit pengunduran diri ini. Sebagai orang dewasa yang ingin hidup sehat pastinya kalian mengerti alasan saya. Tetap semangat kawan, sampai jumpa di forum hebat berikutnya, and i'm so sorry, sorry is maaf, maka maafkanlah saya.
Karena hidup ga selalu manis, kadang asem, ampe ga ketulungan asemnya, kayak strawberry.
Jumat, 18 Februari 2011
Kamis, 17 Februari 2011
Amandel ??
Amandel, kata Dokter atau orang pintar adalah radang tenggorokan berupa sedikit pembengkakan yang membuat penderitanya susah menelan. Waktu itu, nanda masih SMP, nanda punya temen yang juga kena amandel, parah banget, sampai space batang lehernya jadi kecil banget. Ada juga kakak kelas nanda yang sampai harus di operasi karna amandel. Bener-bener unpredictable, nanda ternyata juga kena amandel, ngiiikk -__-''
itu pas nanda lagi sakit, pendarahan kecil gtu, setelah diperiksa ke dokter dan katanya ga kenapa2, mama nanda ga puas dan dibawalah nanda ini ke 'orang pinter', dan disana kata mbak-mbaknya, -ya karna orang pinternya masih gadis-, nanda kena amandel yang bikin nanda jadi sering sakit, hampir tiap bulan sakitnya. Disana si mbak2 bilang pantangan2 orang amandel, yang nanda inget sih, semangka, permen karet, ama minum es. Nah, semenjak itu, nanda menjadi anak baik dengan menghindari pantangan2 tadi, jadilah nanda anak SMP cablak yang jarang sakit. Sampai nanda kelas dua SMA, iseng2 makan permen karet karna ngerasa amandel itu udah ga ada. Tapi ternyata itu salah, salah besar, nanda langsung sakit tenggorokan dan demam :|. Semenjak itu, setiap nanda capek,kepanasan, salah makan, pasti bakal sakit tenggorokan dan langsung demam, dan itu terjadi hampir tiap bulan, sampai sekarang.
Ternyata amandel itu adalah bagian dari kelenjar getah bening yang letaknya di sisi kanan kiri pangkal tenggorokan. Peradangan pada amandel bisa terjadi karena infeksi bakteri maupun virus. Ketika kondisi-nya meradang organ akan membesar, berwarna merah, dan disertai rasa sakit (nyeri). Berarti selama ini yang kita bilang 'dia punya amandel' adalah getah beningnya tadi, yang ga sakit dan dimiliki ama semua orang, yang bikin amandel sakit itu yaa radangnya, yang bikin tenggorokan sakit, demam, sakit kepala, susah makan, suara berubah -makanya nanda jadi cempreng gini karna radang amandel meureun- dan hal-hal ga enak lainnya.
Satu lagi, radang amandel ternyata bisa nyerang siapa aja, dan orang yang udah sembuh ga nutup kemungkinan buat radangnya kambuh lagi.
Yang nanda takutin adalah operasi amandel, walau katanya ga sakit, tetep aja nyeremin dan bisa ngurangin imun dalam badan kita, karna salah satu fungsi amandel adalah sebagai imun terhadap bakteri dan virus yang bakal masuk ke badan kita lewat mulut.Bayangin aja kalo si amandel ini udah diangkat. Fakta lain adalah, ternyata orang yang kena radang amandel harus perhatian banget ama food safety and hygine, karna tu sensitif banget. OMG, harus gimana lagi gueee??, orang amandel juga ga boleh berbagi gelas dan alat makan dengan orang lain, ngoookks.
Ternyata, amandel yang merupakan salah satu bagian dari sistem imun juga bisa rusak karna diri kita sendiri. Oke nanda, semangaaaatt, amandel hanya bagian kecil dari hidupmu nak \^_^/
itu pas nanda lagi sakit, pendarahan kecil gtu, setelah diperiksa ke dokter dan katanya ga kenapa2, mama nanda ga puas dan dibawalah nanda ini ke 'orang pinter', dan disana kata mbak-mbaknya, -ya karna orang pinternya masih gadis-, nanda kena amandel yang bikin nanda jadi sering sakit, hampir tiap bulan sakitnya. Disana si mbak2 bilang pantangan2 orang amandel, yang nanda inget sih, semangka, permen karet, ama minum es. Nah, semenjak itu, nanda menjadi anak baik dengan menghindari pantangan2 tadi, jadilah nanda anak SMP cablak yang jarang sakit. Sampai nanda kelas dua SMA, iseng2 makan permen karet karna ngerasa amandel itu udah ga ada. Tapi ternyata itu salah, salah besar, nanda langsung sakit tenggorokan dan demam :|. Semenjak itu, setiap nanda capek,kepanasan, salah makan, pasti bakal sakit tenggorokan dan langsung demam, dan itu terjadi hampir tiap bulan, sampai sekarang.
Ternyata amandel itu adalah bagian dari kelenjar getah bening yang letaknya di sisi kanan kiri pangkal tenggorokan. Peradangan pada amandel bisa terjadi karena infeksi bakteri maupun virus. Ketika kondisi-nya meradang organ akan membesar, berwarna merah, dan disertai rasa sakit (nyeri). Berarti selama ini yang kita bilang 'dia punya amandel' adalah getah beningnya tadi, yang ga sakit dan dimiliki ama semua orang, yang bikin amandel sakit itu yaa radangnya, yang bikin tenggorokan sakit, demam, sakit kepala, susah makan, suara berubah -makanya nanda jadi cempreng gini karna radang amandel meureun- dan hal-hal ga enak lainnya.
Satu lagi, radang amandel ternyata bisa nyerang siapa aja, dan orang yang udah sembuh ga nutup kemungkinan buat radangnya kambuh lagi.
Yang nanda takutin adalah operasi amandel, walau katanya ga sakit, tetep aja nyeremin dan bisa ngurangin imun dalam badan kita, karna salah satu fungsi amandel adalah sebagai imun terhadap bakteri dan virus yang bakal masuk ke badan kita lewat mulut.Bayangin aja kalo si amandel ini udah diangkat. Fakta lain adalah, ternyata orang yang kena radang amandel harus perhatian banget ama food safety and hygine, karna tu sensitif banget. OMG, harus gimana lagi gueee??, orang amandel juga ga boleh berbagi gelas dan alat makan dengan orang lain, ngoookks.
Ternyata, amandel yang merupakan salah satu bagian dari sistem imun juga bisa rusak karna diri kita sendiri. Oke nanda, semangaaaatt, amandel hanya bagian kecil dari hidupmu nak \^_^/
Label:
Sains itu Cerdas
Selasa, 15 Februari 2011
Pertanyaan untuk Tuhan-Ku
Tuhan, aku tau Kau sangat menyayangi Hamba-Mu, termasuk aku. Tapi Tuhan, apakah sakit yang Engkau berikan padaku termasuk salah satu bentuk kasih sayang-Mu..??
Aku tau, kata mereka, ustad-ustad pintar dan orang – orang yang taat pada-Mu, sakit itu adalah ujian dari-Mu, dan orang yang diberi ujian adalah orang-orang yang mendapat perhatian dari-Mu, dan kata mereka juga, jika disetiap sakit itu kami selalu mengingat dan mengucap nama-Mu maka Engkau akan mengampuni dosa kami.
Tapi Tuhan, aku rasa aku tetap berdosa dan lebih berdosa karna dengan sakitku aku tidak bisa melakukan banyak hal, aku tidak bisa mengikuti rapat di organisasi ku, aku tidak bisa kuliah, aku tidak bisa bermain bersama teman-teman ku, apa aku tidak berdosa ..??
Tuhan, aku ingin sembuh, aku ingin sebulan saja tanpa sakit, bisakah Kau memberikan itu pada ku..??
Aku tau, kata mereka, ustad-ustad pintar dan orang – orang yang taat pada-Mu, sakit itu adalah ujian dari-Mu, dan orang yang diberi ujian adalah orang-orang yang mendapat perhatian dari-Mu, dan kata mereka juga, jika disetiap sakit itu kami selalu mengingat dan mengucap nama-Mu maka Engkau akan mengampuni dosa kami.
Tapi Tuhan, aku rasa aku tetap berdosa dan lebih berdosa karna dengan sakitku aku tidak bisa melakukan banyak hal, aku tidak bisa mengikuti rapat di organisasi ku, aku tidak bisa kuliah, aku tidak bisa bermain bersama teman-teman ku, apa aku tidak berdosa ..??
Tuhan, aku ingin sembuh, aku ingin sebulan saja tanpa sakit, bisakah Kau memberikan itu pada ku..??
Label:
Galau
Minggu, 30 Januari 2011
Galau Memikirkan Masa Depan
Masa depan..??
Ya, mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Begitu seterusnya. Cita-cita itu berkaitan dengan masa depan, tapi masa depan kadang bertolak belakang dengan apa yang kita cita-citakan. Jika anak balita atau anak usia Sekolah Dasar ditanya apa cita-cita mereka, jawaban mereka -biasanya-, dokter, tentara, superman, polisi, guru, pegawai bank, artis, penyanyi,presiden, dan profesi umum lainnya. Jarang sekali mereka mengatakan bahwa mereka ingin menjadi pegawai ticketing bioskop, receptionist, cleaning service, sutradara, supir taksi, fotografer, produser, dan profesi-profesi aneh lainnya. Dan yang lebih anehnya, mengapa cita-cita itu slalu berkaitan dengan sebuah profesi..??. Tampaknya pertanyaan itu tidak harus dijawab.
Waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi polwan, kemudian berganti menjadi pegawai bank, kemudian berganti lagi menjadi dokter spesialis anak, pernah juga aku ingin menjadi Putri Indonesia perwakilan Riau, kemudian menjadi presenter, menjadi guru, ahli gizi, dokter syaraf, dokter kulit, dokter bedah, kemudian wartawan, kemudian kembali lagi ingin menjadi dokter, dokter apapun itu, dengan alasan, -menurut banyak orang-aku pintar, sayang kalau otaknya tidak dimanfaatkan. Sejak saat itu aku belajar, belajar biologi, fisika, kimia, matematika, dan semuanya ku pelajari, tujuan hidupku saat itu: mempertahankan juara di kelas, dapat nilai tinggi, sering ikut lomba, disayang guru, dapat beasiswa untuk kuliah di tempat terkenal, tempatnya pembelajar sejati berburu ilmu, tapi cita-cita untuk menjadi wartawan tidak pernah ku lupakan, aku tetap menulis, mengkritik setiap kejadian aneh di sekolah, mewawancarai Ibu Gubernur yang berkunjung ke sekolah bahkan menjadi panitia buku tahunan. Tidak cukup sampai disitu, aku adalah orang yang berfikir untuk masa depan ku, solat ku tidak lagi 5 kali sehari semalam, tapi tujuh kali, ditambah Dhuha dan Tahjud, aku adalah orang yang dekat Tuhan, saat itu. Hingga akhirnya usaha panjang itu terkabul, aku diterima di Institut Pertanian Bogor, melalui jalur beasiswa, bertemu dengan orang-orang pintar, dan menjadi orang yang -disebut- pintar. Namun, kompas ku terjatuh, hancur dan arahnya kacau balau, masa transisi, labil, dan mencari identitas ku bukan pada masa SMP atau SMA seperti teman sebaya ku. Aku mengalami itu ketika kuliah di Tingkat Persiapan Bersama IPB. Terlambat memang. Aku berteman dengan anak-anak yang sangat jauh berbeda dengan teman-teman ku di seberang pulau sana. Aku tidak melakukan kebaikan apapun selain bolak balik Jakarta-Bogor untuk bertemu Arya tentunya dan menghabiskan uang di rekening ku hanya untuk bersenang-bersenang. Kapal ku terombang ambing, bahkan hampir karam ketika hubungan -percintaan- ku dengan Arya berakhir. Ini fakta, kawan. Tapi, -untuk kesekian kalinya kukatakan padamu- Tuhan ku sangat sayang padaku, dia memberikan ku jati diri yang sesungguhnya, yang membuat ku nyaman, aman, tentram, bahagia dan merasa benar-benar menjadi diriku sendiri saat aku bertemu sosok cerdas dan tajam di Koran Kampus, jadi diri ku semakin matang ketika aku kembali bergabung dengan Kepengurusan CSS MoRA IPB. Bersama mereka aku tau arti berhemat, arti cinta yang sesungguhnya, arti menghargai waktu, dan arti-arti yang lainnya. Disana, aku mengalami yang namanya proses pendewasaan diri. Kini, setelah aku -merasa- dewasa, aku menemukan cita-cita ku yang sesungguhnya: Wartawan, fotografer, orang yang hidupnya berhubungan dengan kamera dan komputer. Satu hal yang harus kau tau kawan, aku mengenal kamera dan efek gambar belum genap setahun, aku mengerti dunia itu belum lama, tapi mengapa, setiap ada tugas atau event yang berhubungan dengan mereka bertiga aku bersemangat, sangat semangat hingga mereka kini menjadi prioritas ku. Aku tidak lagi menjadi anak yang memikirkan nilai ujiannya, menjadi nanda yang santai dan lebih stabil keceriannya.
Sudah, aku sudah mantap, aku sudah melihat jalan itu, jalan menuju masa depan, jalan untuk mengambil sesuatu yang ada di kotak kaca di ujung lorong remang-remang yang panjang, sangat panjang, isinya didalam kotak itu adalah mereka bertiga, mereka yang barusan kuceritakan. yang membuat aneh adalah, aku galau, tidak tau untuk apa dan karna apa. Hati ku semakin menciut, lensa kamera ku semakin seperti tidak berguna ketika aku melihat hasil jepretan mereka, aku merasa benar-benar bodoh, tidak bisa apa-apa. Tuhan..., ini lah yang membuat aku semakin galau, semakin merasa sedih, dan semakin merasa tidak mampu untuk melakukan apapun untuk masa depan ku, aku galau memikirkan masa depan.Padahal, untuk apa aku berpusing-pusing memikirkan masa depan, aku perempuan yang suatu saat akan dilamar seorang lelaki -ntah super atau tidak- kemudian hidup bersamanya dan menuruti semua peraturan darinya, seperi teman-teman ku, sebagian dari mereka sudah menjalani intro dari masa depannya disaat aku masih galau memikirkan masa depan ku. Tapi tetap saja, aku galau, galau untuk kesekian kalinya, galau memikirkan masa depan.
Ya, mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Cita-cita itu, sesuatu yang ingin dicapai dimasa depan, dan masa depan itu mungkin sama dengan cita-cita. Begitu seterusnya. Cita-cita itu berkaitan dengan masa depan, tapi masa depan kadang bertolak belakang dengan apa yang kita cita-citakan. Jika anak balita atau anak usia Sekolah Dasar ditanya apa cita-cita mereka, jawaban mereka -biasanya-, dokter, tentara, superman, polisi, guru, pegawai bank, artis, penyanyi,presiden, dan profesi umum lainnya. Jarang sekali mereka mengatakan bahwa mereka ingin menjadi pegawai ticketing bioskop, receptionist, cleaning service, sutradara, supir taksi, fotografer, produser, dan profesi-profesi aneh lainnya. Dan yang lebih anehnya, mengapa cita-cita itu slalu berkaitan dengan sebuah profesi..??. Tampaknya pertanyaan itu tidak harus dijawab.
Waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi polwan, kemudian berganti menjadi pegawai bank, kemudian berganti lagi menjadi dokter spesialis anak, pernah juga aku ingin menjadi Putri Indonesia perwakilan Riau, kemudian menjadi presenter, menjadi guru, ahli gizi, dokter syaraf, dokter kulit, dokter bedah, kemudian wartawan, kemudian kembali lagi ingin menjadi dokter, dokter apapun itu, dengan alasan, -menurut banyak orang-aku pintar, sayang kalau otaknya tidak dimanfaatkan. Sejak saat itu aku belajar, belajar biologi, fisika, kimia, matematika, dan semuanya ku pelajari, tujuan hidupku saat itu: mempertahankan juara di kelas, dapat nilai tinggi, sering ikut lomba, disayang guru, dapat beasiswa untuk kuliah di tempat terkenal, tempatnya pembelajar sejati berburu ilmu, tapi cita-cita untuk menjadi wartawan tidak pernah ku lupakan, aku tetap menulis, mengkritik setiap kejadian aneh di sekolah, mewawancarai Ibu Gubernur yang berkunjung ke sekolah bahkan menjadi panitia buku tahunan. Tidak cukup sampai disitu, aku adalah orang yang berfikir untuk masa depan ku, solat ku tidak lagi 5 kali sehari semalam, tapi tujuh kali, ditambah Dhuha dan Tahjud, aku adalah orang yang dekat Tuhan, saat itu. Hingga akhirnya usaha panjang itu terkabul, aku diterima di Institut Pertanian Bogor, melalui jalur beasiswa, bertemu dengan orang-orang pintar, dan menjadi orang yang -disebut- pintar. Namun, kompas ku terjatuh, hancur dan arahnya kacau balau, masa transisi, labil, dan mencari identitas ku bukan pada masa SMP atau SMA seperti teman sebaya ku. Aku mengalami itu ketika kuliah di Tingkat Persiapan Bersama IPB. Terlambat memang. Aku berteman dengan anak-anak yang sangat jauh berbeda dengan teman-teman ku di seberang pulau sana. Aku tidak melakukan kebaikan apapun selain bolak balik Jakarta-Bogor untuk bertemu Arya tentunya dan menghabiskan uang di rekening ku hanya untuk bersenang-bersenang. Kapal ku terombang ambing, bahkan hampir karam ketika hubungan -percintaan- ku dengan Arya berakhir. Ini fakta, kawan. Tapi, -untuk kesekian kalinya kukatakan padamu- Tuhan ku sangat sayang padaku, dia memberikan ku jati diri yang sesungguhnya, yang membuat ku nyaman, aman, tentram, bahagia dan merasa benar-benar menjadi diriku sendiri saat aku bertemu sosok cerdas dan tajam di Koran Kampus, jadi diri ku semakin matang ketika aku kembali bergabung dengan Kepengurusan CSS MoRA IPB. Bersama mereka aku tau arti berhemat, arti cinta yang sesungguhnya, arti menghargai waktu, dan arti-arti yang lainnya. Disana, aku mengalami yang namanya proses pendewasaan diri. Kini, setelah aku -merasa- dewasa, aku menemukan cita-cita ku yang sesungguhnya: Wartawan, fotografer, orang yang hidupnya berhubungan dengan kamera dan komputer. Satu hal yang harus kau tau kawan, aku mengenal kamera dan efek gambar belum genap setahun, aku mengerti dunia itu belum lama, tapi mengapa, setiap ada tugas atau event yang berhubungan dengan mereka bertiga aku bersemangat, sangat semangat hingga mereka kini menjadi prioritas ku. Aku tidak lagi menjadi anak yang memikirkan nilai ujiannya, menjadi nanda yang santai dan lebih stabil keceriannya.
Sudah, aku sudah mantap, aku sudah melihat jalan itu, jalan menuju masa depan, jalan untuk mengambil sesuatu yang ada di kotak kaca di ujung lorong remang-remang yang panjang, sangat panjang, isinya didalam kotak itu adalah mereka bertiga, mereka yang barusan kuceritakan. yang membuat aneh adalah, aku galau, tidak tau untuk apa dan karna apa. Hati ku semakin menciut, lensa kamera ku semakin seperti tidak berguna ketika aku melihat hasil jepretan mereka, aku merasa benar-benar bodoh, tidak bisa apa-apa. Tuhan..., ini lah yang membuat aku semakin galau, semakin merasa sedih, dan semakin merasa tidak mampu untuk melakukan apapun untuk masa depan ku, aku galau memikirkan masa depan.Padahal, untuk apa aku berpusing-pusing memikirkan masa depan, aku perempuan yang suatu saat akan dilamar seorang lelaki -ntah super atau tidak- kemudian hidup bersamanya dan menuruti semua peraturan darinya, seperi teman-teman ku, sebagian dari mereka sudah menjalani intro dari masa depannya disaat aku masih galau memikirkan masa depan ku. Tapi tetap saja, aku galau, galau untuk kesekian kalinya, galau memikirkan masa depan.
Label:
Galau
Kamis, 27 Januari 2011
Aku Bilang itu Peringatan Tuhan
Aku termasuk orang yang tidak pernah mendapatkan nilai bagus ketika ujian, standar, hanya kisaran 60-70an, jarang sekali diatas 80. Tapi kali ini ada yang beda, mata kuliah Pengantar Ekologi Keluarga yang menjadi mayor ku di semester tiga ini terbilang susah dan abstrak, membayang-bayangkan.
Aku tidak berharap banyak dengan mata kuliah ini, target ku hanya B, padahal untuk pelajaran lainnya aku menargetkan A. Kejenuhan ku terhadap mata kuliah ini bertambah karna banyak senior yang mengatakan kalau si Ibu Dosen perfectionist, susah diajak kompromi dan la la la.
Ujian Tengah Semester pun tiba, aku dan teman2 berusaha belajar semaksimal, menghapal slide, modul dan bahan bacaan sampai ngelotok.
Setelah ujian selesai aku hanya menanti hasil, tidak berharap banyak. Alhamdulillah ternyata Tuhan memang sayang padaku, jauh dari yang kutargetkan, angka 90 berdiri manis diujung NRP ku, benar2 unpredictable.
Karena nilai 90 itulah, aku jadi berharap, karna memang itu satu2nya harapan mata kuliah dengan nilai akhir A. UAS pun tiba..., aku belajar sekuat mungkin, semua bahan ujian aku baca, tidak satupun yang terlewat, fasilitas internet di kosan juga aku manfaatkan untuk mencari referensi tambahan dan google translate -karena bahan kuliahnya banyak yang menggunakan bahasa inggris yang aku tidak mengerti.
Waktu ujian akhir, aku berdoa agar semuanya lancar, tapi Tuhan berkata lain, leher ku tercekat ketika membaca soal pertama, ku coba untuk menerawang, tapi semuanya gelap.
Aku mulai panik, soal pertama itu nilainya 20. Aku sudah putus asa, merasa memang harapan untuk mendapat nilai A itu jauh. Ku lanjutkan saja mengerjakan soal yang lain, tangan tu tetap menari-nari bersama pulpen tinta basah itu, sesekali aku mencoret lembar jawaban ku karna salah tulis, aku gugup. Satu persatu soal telah ku selesaikan, tinggal soal pertama yang belum sempat kukerjakan. Oke, seperti biasa, aku mencoba menjawab seadanya, sebisanya, ntah benar atau salah. Waktu masih tersisa hampir satu jam lagi, tapi aku sudah menyelesaikan semua soal jawaban itu. Sebelum mengumpulkan aku masih duduk manis di bangku paralel bagian sudut kiri ruang kelas, menanti mereka yang hendak mengumpulkan jawaban ujiannya, karna aku tidak ingin menjadi yang pertama mengumpulkan. Sementara duduk menanti, aku memutar leher ku ke kanan ke kiri, untuk melihat suasana ujian di kelas ku, yang menurutku tidak pernah tenang, mereka tertawa, mereka tersenyum,mereka merungut, mereka melirik, mereka meminjam tipe-x, mereka juga saling mencontek. Teman yang duduk disebelah ku menanyakan beberapa jawaban yang tidak diketahuinya, dengan santai dan baik hati tentunya, aku memberikan clue jawabannya, karna aku tau, dia tau isi jawabannya, tapi tidak tau harus memulai darimana. Merasa dirugikan, takut dikalahkan dan takut gagal mendapat nilai A, dengan perasaan santai dan biasa saja, aku meminta jawaban nomor satu tadi dengannya, alasannya satu, balas jasa, agar seimbang. Sama sekali aku tidak takut akan itu, karena aku merasa itu -mencontek- dibolehkan, teman sekelasku banyak yang begitu -mencontek. Setelah selesai menulis semua jawaban aku pun mengumpulkan jawaban ujian ku, dan menanti mereka, teman ku yang lain diluar kelas dengan perasaan senang dan bahagia karna aku sudah menyelesaikan semester tiga ini dengan bahagia.
Jumat-Sabtu-Minggu-Senin, terdengar kabar bahwa beberapa orang teman ku ketahuan mencontek ketika ujian. Tapi namaku tidak tercantum disitu. Kasihan teman-teman ku. Aku ingin jujur pada bu Dosen bahwa aku juag ikut mencontek, tapi kata mereka biarlah, biarkan saja, lebih baik diam daripada nanti urusannya tambah panjang.
Kamis pagi, Tuhan aku menerima pesan singkat yang isinya seluruh mahasiswa yang merasa mencontek diharuskan mengaku dan jujur, agar urusannya cepat selesai. Aku jujur, tidak ku hiraukan ganjaran indisipliner itu, apalah artinya nilai mutu diatas selembar kertas dibanding dengan kejujuran. Apalah arti Indeks Prestasi yang tinggi tapi ternyata itu semua adalah hasil dari kecurangan.
Aku bilang itu peringatan Tuhan, peringatan Tuhan agar saya tidak merasakan nikmatnya mencontek, peringatan agar saya tidak berfikir kalau mencontek itu aman-aman saja, peringatan Tuhan agar saya menargetkan nilai diatas kertas, tapi menargetkan kejujuran, peringatan Tuhan yang sayang padaku, Tuhan yang tidak ingin aku semakin banyak berbuat salah, Tuhan ingin aku tetap menjadi nanda yang baik, untuk sekian kalinya aku mengungkapkan rasa cinta ini pada Tuhan ku, Tuhan yang paling baik :D
Aku tidak berharap banyak dengan mata kuliah ini, target ku hanya B, padahal untuk pelajaran lainnya aku menargetkan A. Kejenuhan ku terhadap mata kuliah ini bertambah karna banyak senior yang mengatakan kalau si Ibu Dosen perfectionist, susah diajak kompromi dan la la la.
Ujian Tengah Semester pun tiba, aku dan teman2 berusaha belajar semaksimal, menghapal slide, modul dan bahan bacaan sampai ngelotok.
Setelah ujian selesai aku hanya menanti hasil, tidak berharap banyak. Alhamdulillah ternyata Tuhan memang sayang padaku, jauh dari yang kutargetkan, angka 90 berdiri manis diujung NRP ku, benar2 unpredictable.
Karena nilai 90 itulah, aku jadi berharap, karna memang itu satu2nya harapan mata kuliah dengan nilai akhir A. UAS pun tiba..., aku belajar sekuat mungkin, semua bahan ujian aku baca, tidak satupun yang terlewat, fasilitas internet di kosan juga aku manfaatkan untuk mencari referensi tambahan dan google translate -karena bahan kuliahnya banyak yang menggunakan bahasa inggris yang aku tidak mengerti.
Waktu ujian akhir, aku berdoa agar semuanya lancar, tapi Tuhan berkata lain, leher ku tercekat ketika membaca soal pertama, ku coba untuk menerawang, tapi semuanya gelap.
Aku mulai panik, soal pertama itu nilainya 20. Aku sudah putus asa, merasa memang harapan untuk mendapat nilai A itu jauh. Ku lanjutkan saja mengerjakan soal yang lain, tangan tu tetap menari-nari bersama pulpen tinta basah itu, sesekali aku mencoret lembar jawaban ku karna salah tulis, aku gugup. Satu persatu soal telah ku selesaikan, tinggal soal pertama yang belum sempat kukerjakan. Oke, seperti biasa, aku mencoba menjawab seadanya, sebisanya, ntah benar atau salah. Waktu masih tersisa hampir satu jam lagi, tapi aku sudah menyelesaikan semua soal jawaban itu. Sebelum mengumpulkan aku masih duduk manis di bangku paralel bagian sudut kiri ruang kelas, menanti mereka yang hendak mengumpulkan jawaban ujiannya, karna aku tidak ingin menjadi yang pertama mengumpulkan. Sementara duduk menanti, aku memutar leher ku ke kanan ke kiri, untuk melihat suasana ujian di kelas ku, yang menurutku tidak pernah tenang, mereka tertawa, mereka tersenyum,mereka merungut, mereka melirik, mereka meminjam tipe-x, mereka juga saling mencontek. Teman yang duduk disebelah ku menanyakan beberapa jawaban yang tidak diketahuinya, dengan santai dan baik hati tentunya, aku memberikan clue jawabannya, karna aku tau, dia tau isi jawabannya, tapi tidak tau harus memulai darimana. Merasa dirugikan, takut dikalahkan dan takut gagal mendapat nilai A, dengan perasaan santai dan biasa saja, aku meminta jawaban nomor satu tadi dengannya, alasannya satu, balas jasa, agar seimbang. Sama sekali aku tidak takut akan itu, karena aku merasa itu -mencontek- dibolehkan, teman sekelasku banyak yang begitu -mencontek. Setelah selesai menulis semua jawaban aku pun mengumpulkan jawaban ujian ku, dan menanti mereka, teman ku yang lain diluar kelas dengan perasaan senang dan bahagia karna aku sudah menyelesaikan semester tiga ini dengan bahagia.
Jumat-Sabtu-Minggu-Senin, terdengar kabar bahwa beberapa orang teman ku ketahuan mencontek ketika ujian. Tapi namaku tidak tercantum disitu. Kasihan teman-teman ku. Aku ingin jujur pada bu Dosen bahwa aku juag ikut mencontek, tapi kata mereka biarlah, biarkan saja, lebih baik diam daripada nanti urusannya tambah panjang.
Kamis pagi, Tuhan aku menerima pesan singkat yang isinya seluruh mahasiswa yang merasa mencontek diharuskan mengaku dan jujur, agar urusannya cepat selesai. Aku jujur, tidak ku hiraukan ganjaran indisipliner itu, apalah artinya nilai mutu diatas selembar kertas dibanding dengan kejujuran. Apalah arti Indeks Prestasi yang tinggi tapi ternyata itu semua adalah hasil dari kecurangan.
Aku bilang itu peringatan Tuhan, peringatan Tuhan agar saya tidak merasakan nikmatnya mencontek, peringatan agar saya tidak berfikir kalau mencontek itu aman-aman saja, peringatan Tuhan agar saya menargetkan nilai diatas kertas, tapi menargetkan kejujuran, peringatan Tuhan yang sayang padaku, Tuhan yang tidak ingin aku semakin banyak berbuat salah, Tuhan ingin aku tetap menjadi nanda yang baik, untuk sekian kalinya aku mengungkapkan rasa cinta ini pada Tuhan ku, Tuhan yang paling baik :D
Label:
A-Z tentang Nanda
Sabtu, 22 Januari 2011
Beasiswa Utusan Daerah, Benarkah Hanya Bermodal Hoki..??
Especially wrote for my great partner CSS MoRA
Beasiswa Utusan Daerah atau yang lebih dikenal dengan BUD adalah salah satu jalur masuk IPB yang memberikan kenikmatan kepada penerimanya untuk menikmati kuliah gratis dan kadang plus uang saku yang cukup, pas-pasan atau bahkan lebih dari cukup. BUD Depag sendiri telah memberikan fasilitas surga dunia untuk seluruh penerimanya yang merupakan jebolan pesantren. Biaya kuliah penuh, living cost, dan fasilitas 'jalan-jalan' tiap tahunnya. Banyak orang berpersepsi bahwa penerima BUD adalah mereka yang memiliki kapasitas otak dan akademik diatas rata-rata. Penerima BUD adalah mereka si batu gunung yang mencoba untuk menjadi batu berlian di Perguruan Tinggi Negeri. Namun siapa sangka, ternyata banyak dari kita yang merasa keberadaannya disini hanyalah berkat peruntungan yang sempat beberapa detik mampir ke alam imajinasinya. Tidak sedikit juga teman mahasiswa mengatakan bahwa BUD hanyalah hak mereka yang 'beruntung'. Paradigma seperti ini sudah sering saya dengar, bahkan sejak saya belum jadi kandidat penerima beasiswa itu. Tapi biarlah.., hoki atau bukan, itu adalah rencana direktur besar kita di Arsy sana.
Kata-kata BUD hanya bermodal hoki nanda dengar lagi waktu ngobrol bareng temen-temen DPM FEMA di kantin metro gizi tadi pagi pas nungguin ka egun buat rakom, tepatnya di kursi orange depan fotokopian bang Agus, disitu ada nanda, rahmi, mail, ama irul. Di bangku sampingnya ada ka erdi ama ka ika lagi ngerekap nilai biokim gm 46. Begini ceritanya..
irul: nanda pulang lagi ga liburan ini??
nanda: ga, kan mau jalan-jalan :)
irul: waah, jalan kemana emang..??
nanda: ke bali, hehe
irul: asikkaaan, ama siapa mah..??
nanda: ama temen2, ama temen2 css nanda mi
rahmi: haaahh, asik dooong,
mail: css apaan nda..??
ka erdi: community of santri scholar..
mail: ??
nanda: itu loh il, yang bud depag tea
mail: emang kalian ngapain aja sih..??
nanda: yaaa, belajar yang rajin biar dapet ip gede, kalo ada acara dr depag ya ikut.
mail: emang kalian ip-nya harus berapa..??
nanda: sama sih, ama syarat dari ipb mah, ga ada syarat wajib
mail: enak banget yak BUD, kuliah kayak yang reguler, tapi dibayarin, lagian BUD juga cuma modal hoki..
nanda: [deg.., gleg.., sambil ngebela], iihh..tes masuknya susah kaliii
mail: yaaa, kan cuma awalnya doang,lagian yang tes juga lulusnya untung2an kan..
fufufu..., mail ada benernya juga, ga salah sama sekali, beneraan deh.
gini ya teman2, kita ngerasa ga sih kalo sebagian kita ada disini karena hoki, mungkin dulunya pas sekolah kita punya temen yang puinteeeerr banget tp ga lulus tes BUD Depag, sedangkan kita, yang ikut tes cuma buat ngeramein alias menuhin kuota pendaftar Beasiswanya, ga pernah mikir sama sekali kalo bahkan lulus, ga pernah nyiapin doa atau nazar khusus kalo kita keterima BUD, dan pas ngerjain soal beneran asal2an, ga pake mikir, bener kan..??,lulusnya kita disini cuma karena dewi fortuna lagi nangkring di lembar jawaban atau pensil 2b kita. --> kesimpulannya, mail bener
Dibalik itu semua, ga dipungkiri juga kalo emang ada temen kita yang emang pinter, berdoa siang malam pagi sore dan tengah malam biar bisa lulus disini, nazar puasa sehari dua hari bahkan seminggu kalo lulus tes BUD-nya, nyiapin mateng semateng-matengnya mateng seluruh rangkaian tes BUD Depag. --> kesimpulannya, mail salah
Tapi, apapun itu, hoki atau ga, masalahnya sekarang adalah pernahkah kita berusaha untuk menghilangkan pandangan hoki pada diri kita..??, khususnya buat yang ngerasa hoki niihh
pas lulus dan keterima di IPB trus kita matrikulasi, banyak diantara kita yang males2an buat ngejalanin dan belajar serius di matrikulasi, bahkan sampai TPB dan penjurusan. alasannya: alaahh, gw mah masuk sini karena hoki kali, ga karna pinter, ga ngerti gw belajar beginian, gw mah bego, dia noh yang pinter.
Ucapan kita yang bilang kita bego itu yang bakal masuk ke alam bawah sadar kita dan men-drive kita buat jadi semakin males, bener ga..??
[sekali lagi ni khusus untuk teman2 yang ngerasa dapet hoki buat kuliah disini, yang ga hoki jangan marah, hehe]. Oke lah waktu matrikulasi atau TPB kita masih belajar pelajaran SMA yang bagi sebagian kita sulit, dan bagi yang lainnya gampang banget karena udah dipelajari ampe ngelotok pas di pondok. Tapi kawan, pas masuk departemen, kita -yang IP-nya 2,alhamdulillah- dengan teman kita -yang IP-nya 4,00 dibayar tunai-, tu SAMA, sama-sama belum belajar apa itu psikologi anak, farmakologi, fisrep, dasqua, dasgron, daskap, daskom, dasbis, ekoling, osum dan sebagainya. Kita sama kawaaaann !!.
Jujur, nanda sakit ati banget pas dibilang BUD tu cuma modal hoki, walau mail emang ada benernya. Oke, bolehlah kita dibilang masuk sini hanya karena modal hoki, tapi kembali kalimat yang tadi, kita dan mereka sama kawan, belum terlambat untuk kita membuktikan kepada mereka kalau kita punya skill, apapun itu, akademik atau non akademik, yang jelas kita punya ability yang bisa ngebuktiin kalo kita bukan anaknya dewi fortuna.
UAS sudah berlalu, apapun hasilnya, sekarang yang harus kita tatap adalah semester genap, buktikan kalo kita bukan penerima hoki, tapi PENERIMA BEASISWA. Buat adik2 yang masih TPB, belum terlambat buat ngejar ketinggalan kalian di semester satu, batu aja bisa hancur ketiban air, masa kalian ga bisa ngalahin batu, kita sama2 ciptaan Allah looh.
Terakhir, ini cuma sedikit cerita tentang tadi pagi, kalau ada yang tersinggung, maaf. Kalo ada yang suka, makasih =). Kalo ada yang ga seneng namanya ketulis disini maaf juga, tapi bahagialah karna kamu telah menjadi catatan sejarah dalam blog saya :p
Beasiswa Utusan Daerah atau yang lebih dikenal dengan BUD adalah salah satu jalur masuk IPB yang memberikan kenikmatan kepada penerimanya untuk menikmati kuliah gratis dan kadang plus uang saku yang cukup, pas-pasan atau bahkan lebih dari cukup. BUD Depag sendiri telah memberikan fasilitas surga dunia untuk seluruh penerimanya yang merupakan jebolan pesantren. Biaya kuliah penuh, living cost, dan fasilitas 'jalan-jalan' tiap tahunnya. Banyak orang berpersepsi bahwa penerima BUD adalah mereka yang memiliki kapasitas otak dan akademik diatas rata-rata. Penerima BUD adalah mereka si batu gunung yang mencoba untuk menjadi batu berlian di Perguruan Tinggi Negeri. Namun siapa sangka, ternyata banyak dari kita yang merasa keberadaannya disini hanyalah berkat peruntungan yang sempat beberapa detik mampir ke alam imajinasinya. Tidak sedikit juga teman mahasiswa mengatakan bahwa BUD hanyalah hak mereka yang 'beruntung'. Paradigma seperti ini sudah sering saya dengar, bahkan sejak saya belum jadi kandidat penerima beasiswa itu. Tapi biarlah.., hoki atau bukan, itu adalah rencana direktur besar kita di Arsy sana.
Kata-kata BUD hanya bermodal hoki nanda dengar lagi waktu ngobrol bareng temen-temen DPM FEMA di kantin metro gizi tadi pagi pas nungguin ka egun buat rakom, tepatnya di kursi orange depan fotokopian bang Agus, disitu ada nanda, rahmi, mail, ama irul. Di bangku sampingnya ada ka erdi ama ka ika lagi ngerekap nilai biokim gm 46. Begini ceritanya..
irul: nanda pulang lagi ga liburan ini??
nanda: ga, kan mau jalan-jalan :)
irul: waah, jalan kemana emang..??
nanda: ke bali, hehe
irul: asikkaaan, ama siapa mah..??
nanda: ama temen2, ama temen2 css nanda mi
rahmi: haaahh, asik dooong,
mail: css apaan nda..??
ka erdi: community of santri scholar..
mail: ??
nanda: itu loh il, yang bud depag tea
mail: emang kalian ngapain aja sih..??
nanda: yaaa, belajar yang rajin biar dapet ip gede, kalo ada acara dr depag ya ikut.
mail: emang kalian ip-nya harus berapa..??
nanda: sama sih, ama syarat dari ipb mah, ga ada syarat wajib
mail: enak banget yak BUD, kuliah kayak yang reguler, tapi dibayarin, lagian BUD juga cuma modal hoki..
nanda: [deg.., gleg.., sambil ngebela], iihh..tes masuknya susah kaliii
mail: yaaa, kan cuma awalnya doang,lagian yang tes juga lulusnya untung2an kan..
fufufu..., mail ada benernya juga, ga salah sama sekali, beneraan deh.
gini ya teman2, kita ngerasa ga sih kalo sebagian kita ada disini karena hoki, mungkin dulunya pas sekolah kita punya temen yang puinteeeerr banget tp ga lulus tes BUD Depag, sedangkan kita, yang ikut tes cuma buat ngeramein alias menuhin kuota pendaftar Beasiswanya, ga pernah mikir sama sekali kalo bahkan lulus, ga pernah nyiapin doa atau nazar khusus kalo kita keterima BUD, dan pas ngerjain soal beneran asal2an, ga pake mikir, bener kan..??,lulusnya kita disini cuma karena dewi fortuna lagi nangkring di lembar jawaban atau pensil 2b kita. --> kesimpulannya, mail bener
Dibalik itu semua, ga dipungkiri juga kalo emang ada temen kita yang emang pinter, berdoa siang malam pagi sore dan tengah malam biar bisa lulus disini, nazar puasa sehari dua hari bahkan seminggu kalo lulus tes BUD-nya, nyiapin mateng semateng-matengnya mateng seluruh rangkaian tes BUD Depag. --> kesimpulannya, mail salah
Tapi, apapun itu, hoki atau ga, masalahnya sekarang adalah pernahkah kita berusaha untuk menghilangkan pandangan hoki pada diri kita..??, khususnya buat yang ngerasa hoki niihh
pas lulus dan keterima di IPB trus kita matrikulasi, banyak diantara kita yang males2an buat ngejalanin dan belajar serius di matrikulasi, bahkan sampai TPB dan penjurusan. alasannya: alaahh, gw mah masuk sini karena hoki kali, ga karna pinter, ga ngerti gw belajar beginian, gw mah bego, dia noh yang pinter.
Ucapan kita yang bilang kita bego itu yang bakal masuk ke alam bawah sadar kita dan men-drive kita buat jadi semakin males, bener ga..??
[sekali lagi ni khusus untuk teman2 yang ngerasa dapet hoki buat kuliah disini, yang ga hoki jangan marah, hehe]. Oke lah waktu matrikulasi atau TPB kita masih belajar pelajaran SMA yang bagi sebagian kita sulit, dan bagi yang lainnya gampang banget karena udah dipelajari ampe ngelotok pas di pondok. Tapi kawan, pas masuk departemen, kita -yang IP-nya 2,alhamdulillah- dengan teman kita -yang IP-nya 4,00 dibayar tunai-, tu SAMA, sama-sama belum belajar apa itu psikologi anak, farmakologi, fisrep, dasqua, dasgron, daskap, daskom, dasbis, ekoling, osum dan sebagainya. Kita sama kawaaaann !!.
Jujur, nanda sakit ati banget pas dibilang BUD tu cuma modal hoki, walau mail emang ada benernya. Oke, bolehlah kita dibilang masuk sini hanya karena modal hoki, tapi kembali kalimat yang tadi, kita dan mereka sama kawan, belum terlambat untuk kita membuktikan kepada mereka kalau kita punya skill, apapun itu, akademik atau non akademik, yang jelas kita punya ability yang bisa ngebuktiin kalo kita bukan anaknya dewi fortuna.
UAS sudah berlalu, apapun hasilnya, sekarang yang harus kita tatap adalah semester genap, buktikan kalo kita bukan penerima hoki, tapi PENERIMA BEASISWA. Buat adik2 yang masih TPB, belum terlambat buat ngejar ketinggalan kalian di semester satu, batu aja bisa hancur ketiban air, masa kalian ga bisa ngalahin batu, kita sama2 ciptaan Allah looh.
Terakhir, ini cuma sedikit cerita tentang tadi pagi, kalau ada yang tersinggung, maaf. Kalo ada yang suka, makasih =). Kalo ada yang ga seneng namanya ketulis disini maaf juga, tapi bahagialah karna kamu telah menjadi catatan sejarah dalam blog saya :p
Label:
Kritik itu Boleh
Kamis, 20 Januari 2011
Gigi Geraham yang Demisioner

Gigi geraham adalah gigi yang letaknya di bagian belakang. Jumlah keseluruhannya 12 batang, 3 di kanan atas, 3 di kanan bawah, 3 di kiri atas dan 3 di kiri bawah. Tapi untuk orang yang berusia dibawah 20 tahun, gigi geraham masih berjumlah 2 disetiap sisi, akan tumbuh setelah berusia 20 tahun, dan ini yang namanya geraham bungsu -karena munculnya terakhir- atau menurut bahasa dokter disebut wisdom teeth.
Masalahnya sekarang bukan geraham bungsu yang mau lahir, tapi geraham sulung yang mau demisioner alias mangkat. Niat untuk mencabut geraham sulung yang bertugas untuk melumat makanan ini muncul sejak kelas satu SMA, karena ternyata si sulung sudah sakit-sakitan dan menyakitkan. Geraham sulung yang memiliki dua akar ini sudah rapuh, bentuknya sudah tidak utuh, dan bagian yang rapuh itu menjadi tajam dan melukai bagian kanan lidah, -karena geraham ada di kanan bawah.
Segera harus dicabut. Memang, daripada menyiksa, lebih baik mencabut gigi itu sesegera mungkin, tapi karena waktu itu nanda ada di asrama, perizinan untuk keluar mengurusi gigi bakal rumit. Ketika liburan lagi-lagi tertunda, tertunda hingga menjelang Ujian Nasional -lama banget yak-. Niatnya siih gigi geraham itu akan dicabut setelah UN selesai. Tapi karna harus mengurusi registrasi kuliah, matrikulasi dan sebagainya, lagi-lagi gigi itu gagal mangkat. Sampai juni 2010, giginya kembali rapuh, melukai lidah, membuat sulit bicara dan tak jarang menjadi tempat transitnya serpihan makanan. Mumpung liburan, keputusannya adalah cabut gigi. "waah, ini giginya udah hancur banget, mending besok aja balik lagi kesini nunggu dokter", kata suster rumah sakit. Karena besoknya nanda mau balik ke Bogor, gigi geraham itu tetap menjabat di hari tuanya.
Sampailah bulan Desember 2010, niat cabut gigi udah mantap, tapi karna masih takut dengan suntikan bius, tertundalah untuk beberapa waktu sampai nanda punya mental buat menerima suntikan anestesi lokal dari dokter. Anestesi lokal itu sejenis bius lokal yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
19 Januari 2011, tanpa rencana matang, nanda ikut ke dokter gigi dengan dilla yang mau memperbaiki behelnya. Oke, nanda mensugestikan kalau suntikan anestesi lokal itu ga sakit, cuma kayak digigit semut. Mendaratlah tiga suntikan anestesi itu di bagian belakang pipi kanan, di bagian kanan bawah dekat geraham sulung dan persis di dekat geraham sulung itu sendiri, dan ternyata ga terlalu sakit !!, meski harus mengeluarkan sedikit darah akibat luka bekas suntikan tadi. Efek anestesi itu menjalar-menjalar-dan menjalar hingga bagian wajah sebelah kanan jadi kaku, serasa bengkak dan mati rasa. Dokter yang mukanya ga jelas itu -karena lagi pakai masker- mulai mengoprek si geraham sulung, berbagai jenis besi metalik di keluarkannya, dan itu ga sakit sama sekali. "giginya keras nih", gumam dokter yang agak susah payah mencabut geraham sulung. Mataku terpejam, nafasku tercekat, tapi tetep aja ga sakit sama sekali, walau nanda tau dokter itu sedang mengerahkan tenaga untuk mencabut geraham sulung. Finish, sebuah benda yang mirip bendera negara polandia yang sudah usang menggantung di ujung tang pencabut gigi di tangan kanan dokter. Ya, mirip bendera polandia yang usang, bagian bawahnya merah menyala dan becek, dengan bagian atas berwarna putih yang kusam, jelek, teksturnya ga jelas, ngooks.
"sakit ga..??", tanya dokter
"enggak", kata nanda sambil cengengesan karna geraham sulung yang menyebalkan itu sudah migrasi ke tong sampah dokter.
dokter: "itu efek biusnya ampe 4 jam looh"
nanda: "yaah, dok. tar saya makannya ga enak dong"
dokter: "hehe, kan masih ada bagian sebelahnya yang ga mati rasa"
Trus nanda keluar ruangan sambil megang pipi dan cengengesan, "ga sakit kok dil", kata nanda ke dilla "pokonya kalo nangis dila tinggal, kita ga kenal !!", balas dila.
Terbukti nanda ga nangis karna anestesinya masih kerasa padahal darah bekas cabut gignya masih ngocor ngocor dan ngocor. Efeknya, nanda jadi susah makan karna bagian yang mati rasa itu tidak mau berkompromi untuk mingkem dengan sempurna pas nanda lagi ngunyah, tanpa terasa, ternyata bibir dalam nanda banyak banget yang tergigit waktu makan --> sariawan, semua makanan dan minuman berasa darah. 19 Januari 2011, sekitar jam setengah sebelas, anestesi itu mulai hilang, menyisakan perih pada sariawan dan ngilu pada bekas lapak geraham sulung. Sekarang, bekas lapak geraham sulung masih rajin mengucurkan darah, si sariawan juga masih meninggalkan perih, lebih perih daripada putus cinta.
Label:
Sains itu Cerdas
Langganan:
Postingan (Atom)